Quiet Quitting vs. Quiet Thriving: Mana yang Lebih Sehat buat Mentalmu?
Dua istilah ini sering muncul di dunia kerja belakangan ini, dan keduanya adalah bentuk respon terhadap burnout. Bedanya, yang satu bersifat pasif, sementara yang lain lebih proaktif.
Mari kita bedah mana yang sebenarnya lebih “ramah” untuk kesehatan mentalmu.
1. Quiet Quitting: “Gaji Minimum, Kerja Minimum”
Quiet quitting bukan berarti kamu berhenti dari pekerjaan, melainkan berhenti melakukan hal-hal di luar deskripsi pekerjaanmu (no more hustle culture).
Sisi Positif: Memberikan batas (boundaries) yang tegas antara kehidupan pribadi dan kantor. Kamu tidak lagi membiarkan pekerjaan “menelan” waktu istirahatmu.
Risikonya: Bisa menimbulkan rasa tidak puas jangka panjang. Jika kamu bekerja tanpa rasa memiliki (engagement), delapan jam sehari bisa terasa sangat menyiksa dan membosankan. Ini juga bisa menghambat pertumbuhan karier jika kamu sebenarnya masih ingin berkembang.
2. Quiet Thriving: “Mengambil Kendali dari Dalam”
Istilah ini dipopulerkan oleh psikolog Lesley Alderman. Intinya adalah membuat perubahan mental atau tindakan kecil untuk membuat pekerjaanmu terasa lebih bermakna tanpa harus pindah kantor.
Sisi Positif: Fokus pada otonomi. Kamu mencari celah untuk mengerjakan hal yang kamu sukai, menjalin koneksi dengan rekan kerja yang positif, atau mengatur ulang jadwal agar tidak stres.
Kekuatannya: Ini memberi kamu rasa berdaya (agency). Kamu tidak menunggu kantor berubah, tapi kamu yang mengubah cara kamu merespon kantor.
Jadi, Mana yang Lebih Sehat?
Jawabannya tergantung pada seberapa beracun (toxic) lingkungan kerjamu:
Pilih Quiet Quitting jika: Kamu berada di lingkungan yang sangat eksploitatif dan tidak ada ruang untuk negosiasi. Ini adalah mode bertahan hidup (survival mode) agar mentalmu tidak hancur total sambil mencari pekerjaan baru.
Pilih Quiet Thriving jika: Pekerjaanmu sebenarnya oke, tapi kamu merasa jenuh atau kehilangan arah. Ini jauh lebih sehat untuk mental karena membangun rasa optimisme dan kepuasan diri.
Catatan Penting: Kesehatan mental yang paling utama adalah keberanian untuk menetapkan batasan. Baik kamu memilih untuk sekadar bertahan atau mencoba berkembang, pastikan kamu tidak mengorbankan waktu tidur dan kedamaian batinmu untuk perusahaan yang bisa menggantikanmu dalam sekejap.
