Hubungan antara Partisipasi Politik dan Pendidikan Kewarganegaraan: Studi Survei Mahasiswa ISIPOL

Hubungan antara partisipasi politik menjadi salah satu indikator penting dalam sistem demokrasi yang sehat. Generasi muda, khususnya mahasiswa, diharapkan menjadi motor penggerak partisipasi politik yang kritis dan aktif. Pendidikan kewarganegaraan, yang bertujuan membentuk warga negara yang sadar hak dan kewajibannya, diyakini memiliki peran strategis dalam mendorong kesadaran politik mahasiswa. Namun, sejauh mana pendidikan kewarganegaraan memengaruhi perilaku politik mahasiswa perlu dikaji secara ilmiah.
Rumusan Masalah
Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan kewarganegaraan dengan partisipasi politik mahasiswa ISIPOL?
Metodologi Penelitian
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif korelasional dengan metode survei.
-
Populasi: Mahasiswa aktif Fakultas ISIPOL.
-
Sampel: 180 mahasiswa dari berbagai program studi, dipilih dengan teknik stratified random sampling.
-
Instrumen: Kuesioner berbasis skala Likert (1–5) yang mengukur:
-
Variabel X: Pendidikan Kewarganegaraan (pengetahuan hak & kewajiban warga negara, nilai demokrasi, pemahaman sistem politik).
-
Variabel Y: Partisipasi Politik (ikut pemilu, diskusi politik, menjadi bagian organisasi politik/kemahasiswaan, aksi sosial-politik).
-
-
Analisis data: Uji validitas, reliabilitas, korelasi Pearson, dan regresi linear sederhana menggunakan SPSS.
Hasil Penelitian
-
Validitas dan Reliabilitas: Semua item dalam kuesioner valid dan reliabel (α > 0,75).
-
Korelasi Pearson:
-
Koefisien korelasi r = 0,58, menunjukkan hubungan sedang dan positif.
-
Nilai p = 0,000 < 0,05, artinya hubungan tersebut signifikan secara statistik.
-
-
Regresi Linear:
-
Nilai R² = 0,34, menunjukkan bahwa 34% variasi dalam partisipasi politik dapat dijelaskan oleh pendidikan kewarganegaraan.
-
Koefisien regresi positif (β = 0,61), artinya peningkatan pemahaman kewarganegaraan berbanding lurus dengan peningkatan partisipasi politik.
-
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pemahaman mahasiswa tentang pendidikan kewarganegaraan, maka semakin tinggi pula partisipasinya dalam kegiatan politik. Hal ini dapat terlihat dari keterlibatan mereka dalam organisasi mahasiswa, kegiatan pemilu kampus, hingga forum diskusi publik.
Namun, partisipasi politik tidak hanya dipengaruhi oleh faktor kognitif (pengetahuan), tetapi juga faktor afektif (motivasi politik, identitas ideologis) dan lingkungan sosial. Misalnya, beberapa mahasiswa mengaku memiliki pengetahuan tinggi, tetapi tidak aktif karena apatisme atau ketidakpercayaan terhadap sistem.
Kesimpulan
Hubungan antara hubungan yang positif dan signifikan antara pendidikan kewarganegaraan dan partisipasi politik mahasiswa ISIPOL. Artinya, penguatan materi kewarganegaraan secara konseptual dan praktis dapat mendorong kesadaran politik mahasiswa yang lebih aktif dan bertanggung jawab.
