Hybrid Learning, Kelebihan dan Kekurangannya
Hybrid learning merupakan sesuatu yang baru bagi masyarakat Indonesia, baik guru, siswa, atau orang tua belum banyak yang mengetahuinya. Namun di luar negeri, ada beberapa negara yang menerapkannya secara langsung. Salah satunya negara Finlandia yang terkenal memiliki sistem pendidikan terbaik.
Kamu juga bisa mengetahui lebih jauh lagi tentang metode-metode pembelajaran di Finlandia yang menyenangkan dan terbukti berhasil membuat para siswa di sana menjadi lebih cerdas.
Perlu Kamu ketahui, di dalam pembelajaran Hybrid ada penggabungan beberapa teori, teknologi, serta metode pembelajaran. Pada dasarnya, ada empat aspek utama dalam hybrid learning agar tujuan pembelajaran dapat tercapai, yaitu:
- Menggabungkan teknologi yang berbasis web seperti video streaming, audio, teks, instruksi mandiri, kegiatan kolaboratif, dan video streaming.
- Menyelenggarakan pembelajaran dengan menggunakan beberapa pendekatan pedagogi contohnya teori kognitivisme, konstruktivisme, dan behaviorisme.
- Menggunakan semua teknologi instruksional yang ada, misalnya aplikasi maupun video, dengan kegiatan tatap muka yang dilakukan di sekolah
- Menyelaraskan penggunaan teknologi untuk pemberian tugas pada siswa agar tercipta efek belajar yang harmonis.
Jika melihat keempat aspek utama tersebut, sekilas hybrid learning tampak sama seperti blended learning. Padahal nyatanya, keduanya merupakan hal yang berbeda. Berikut penjelasan seperti apa perbedaannya.
Keunggulan Hybrid Learning
1. Siswa masih tetap dapat berinteraksi sosial
Sebelum pandemi mengganas, interaksi sosial antara siswa menjadi hal paling menyenangkan dan paling ditunggu-tunggu. Apalagi di sekolah, siswa mempunyai banyak teman dengan berbagai latar belakang yang membuat interaksi jadi semakin seru.
Contohnya jajan bersama teman ke kantin, mengerjakan tugas di perpustakaan, atau ngobrol di kelas kala istirahat. Sayangnya, saat pembelajaran daring selama pandemi, siswa tidak mempunyai kesempatan bertemu dengan teman-temannya. Hal ini lantas berdampak negatif pada kondisi psikis anak.
Di sinilah peran hybrid learning diperlukan karena dipercaya dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi bersama teman-temannya di sekolah, meskipun dengan porsi yang terbatas. Namun setidaknya, siswa tidak akan dilanda kebosanan luar biasa seperti saat ini.
2. Siswa lebih memahami pelajaran
Salah satu kendala utama yang dirasakan anak-anak saat belajar di rumah secara total adalah tidak adanya sarana dan fasilitas yang mampu menunjang proses belajar. Seperti perangkat yang kurang memadai atau koneksi internet yang tidak stabil. Padahal fasilitas tersebut mempunyai peran yang besar agar anak dapat memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru.
Jika koneksi internet terputus di tengah-tengah proses pembelajaran atau perangkat mendadak tidak bisa digunakan, anak-anak pasti ketinggalan penjelasan dari guru. Sedangkan, tidak semua guru mampu merekam pembelajaran sehingga tidak ada rekaman yang bisa dilihat oleh murid yang mengalami kendala.
Hybrid learning mampu mengatasi hal ini dengan cukup baik karena siswa jadi mempunyai kesempatan untuk berkomunikasi dengan guru di sekolah. Seperti mengajukan pertanyaan jika menemukan hal yang tidak bisa mereka mengerti.
3. Mengusir kejenuhan siswa
Belajar daring dalam waktu satu tahun lebih jelas membuat siswa merasakan kejenuhan yang luar biasa. Mereka harus melakukan kegiatan yang monoton di rumah tanpa diselingi oleh interaksi bersama teman-teman. Akibatnya semangat dan keinginan untuk belajar pun menurun.
Jika menerapkan model hybrid, siswa bisa mengusir kejenuhan mereka serta meningkatkan semangat belajar. Hasilnya proses belajar pun jadi lebih efektif karena murid lebih siap menerima materi yang disampaikan oleh guru.
4. Lebih fleksibel
Dengan melaksanakan hybrid learning, pelajaran pun akan menjadi lebih fleksibel karena guru dan siswa dapat menentukan materi mana yang harus diajarkan secara langsung dan tidak. Hal ini juga dapat memaksimalkan pemahaman siswa. Apalagi tidak semua pelajaran bisa disampaikan dengan baik secara daring.
Kekurangan Hybrid Learning
Tidak ada yang sempurna di dunia, begitu pula dengan metode hybrid learning. Selain mempunyai keunggulan, metode ini juga memiliki beberapa kekurangan jika benar-benar diterapkan.
1. Ketidaksiapan semua pihak yang terkait
Ya, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Hybrid learning terbilang sebagai sesuatu yang baru di dunia pendidikan Indonesia. Oleh sebab itu, bisa dipastikan semua pihak yang terkait, seperti guru, siswa, dan orang tua, akan mendapatkan tantangan yang baru.
Ini berpotensi mendatangkan masalah yang baru apabila semua pihak itu tidak dapat beradaptasi dengan metode hybrid learning dan kesulitan mengatasi masalah yang ada. Hasilnya, proses belajar akan menjadi tidak efektif.
2. Keraguan orang tua dan kesiapan pihak sekolah
Tak sedikit orang tua yang meragukan kemampuan pihak sekolah dalam menyediakan lingkungan belajar mengajar yang aman. Terlebih mengenai masalah sanitasi serta kebersihan yang baik.
Pihak sekolah perlu menunjukan kesiapan serta komitmen yang kuat untuk menyediakan lingkungan belajar yang aman. Misalnya dengan membentuk satgas khusus yang bertanggung jawab memastikan protokol kesehatan diterapkan dengan efektif selama siswa berada di sekolah.
Tidak bisa dipungkiri, ketidaksiapan pihak sekolah mengundang keraguan serta kekhawatiran orang tua untuk mengizinkan anaknya belajar secara langsung.
3. Peningkatan kasus Covid-19
Yang ketiga adalah pertimbangan mengenai peningkatan kasus Covid-19 yng sedang terjadi di Indonesia. Biar bagaimanapun, jumlah kasus positif yang terus meningkat membuat orang tua khawatir saat mengetahui anaknya harus belajar di sekolah. Sebagian orang tua berpendapat bahwa belum saatnya hybrid learning diterapkan di Indonesia.
4. Membutuhkan peran ekstra orang tua
Jika pembelajaran hybrid diterapkan, orang tua harus berperan sangat aktif untuk memastikan anaknya mengikuti pembelajaran dengan baik saat berada di rumah. Selain itu, orang tua juga harus memberikan dukungan moral serta motivasi agar mental anak terjaga dengan baik.
Di sisi lain, orang tua dari siswa yang melaksanakan kegiatan belajar di sekolah harus memastikan kesehatan anak tetap terjaga selama di luar rumah. Dengan begitu, siswa bisa terhindar dari paparan virus corona.
5. Siswa kesulitan membuat jadwal untuk belajar
Seringkali siswa mendapatkan setumpuk tugas saat melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Hal ini membuat mereka kesulitan membuat jadwal untuk belajar, akhirnya tugas-tugas yang diberikan oleh guru pun terbengkalai begitu saja.
Diperlukan peran aktif serta kerjasama antara guru dan orang tua untuk membuat jadwal belajar yang fleksibel.
