Telkom Manfaatkan Metaverse dan AI Tingkatkan Pelanggan
PT Telkom Indonesia saat ini tengah membuatkan layanan baru buat menaikkan pengalaman pelanggan. Layanan ini akan berbasis teknologi metaverse dan kecerdasan sintesis atau artificial intelligence (AI) buat menjawab keluhan berasal pelanggan.
Deputy EVP Customer Experience (CX) & Digitization PT Telkom Indonesia Sri Safitri menyampaikan, bahwa pihaknya terus berupaya untuk memperbaiki pengalaman pelanggan, salah satunya menggunakan memanfaatkan aneka macam teknologi terkini seperti AI dan metaverse.
Ini berbasis use case di kami, yakni hubungan pelanggan di call center dengan menggunakan Robotic Processing Automation (RPA) sehingga petugas kami lebih banyak ketika berinteraksi dengan pelanggan. persoalan pelanggan pula dapat diidentifikasi serta diatasi menggunakan lebih cepat,” kata Sri pada siaran persnya.
Sri menuturkan juga bahwa AI serta machine learning (ml) jua telah dimanfaatkan di Telkom Integrated Operation Center (TIOC) 5.0. Pemanfaatan ini disokong dengan termin awal otomatisasi 54 pekerjaan menggunakan volume besar serta dilakukan berulang-ulang.
Selain itu, Sri berkata bahwa penerapan riil AI tersebut diprioritaskan pada peningkatan pengalaman pelanggan secara aporisma melalui digitalisasi. Digitalisasi dilakukan buat dapat mencapai operational excellence seperti TIOC 5.0, serta pula buat mencapai pelayanan maksimal seperti pemanfaatan RPA.
Harapannya, cara ini bisa mengurangi churn, menaikkan interaksi agen di call center dengan pelanggan, dan adanya proses otomatis robotik, tutur Sri.
Sri pun berkata, bahwa buat metaverse sendiri kedepannya akan memungkinkan pelanggan buat bisa berinteraksi dengan pelayanan virtual Plasa Telkom secara interaktif. Hal ini dilakukan menggunakan agen virtual avatar 3 dimensi yang bisa menjawab keluhan pelanggan selama 24/7.
Bentuk berasal avatar ini, Sri menjelaskan, mampu berupa kehadiran text to animation yang bisa mendukung avatar 3D pada Plasa Telkom virtual. Gerakan bibir avatar kemudian bisa sesuai menggunakan bunyi yang disampaikan agen secara bergerak maju.
Sri pun berkata bahwa Telkom Indonesia sebagai perusahaan pertama pada Indonesia yang menggunakan super komputer tercanggih NVIDIA DGX A100 dengan kemampuan meningkatkan kecepatan serta mengoptimalkan proses, sangat siap buat dapat menerapkan metaverse serta AI.
Perangkat super komputer ini pun diharapkan dapat mengakselerasi pengembangan solusi peningkatan pengalaman pelanggan berdasarkan pada use case di laboratorium ATR (Advanced Technology Research). Hal ini agar produk berbasis AI bisa lebih optimal serta lebih cepat buat dihasilkan.
Laboratorium ATR sendiri meliputi lab AI, robotik, RPA, blockchain, augmented reality serta virtual reality (AR/VR), serta lab biosignal. akselerasi digital berbasis AI dan metaverse ini pun optimis dilakukan Telkom sehabis adanya pertemuan dengan Kementerian AI Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) pada akhir Maret 2022 lalu.
Menurut Executive Vice President Digital Business & Technology Telkom Indonesia Saiful Hidajat, salah satu bentuk berasal perwujudan kolaborasi ini adalah pengiriman karyawan dari Telkom Indonesia buat melakukan magang pada Kementerian AI UEA.
UEA telah melangkah jauh. Selain telah terdapat Kementerian AI, mereka pula meluncurkan UEA National Strategy for Artificial Intelligence Sejak tahun 2017 supaya lebih serius dalam investasi bakat digital, istilah Saiful.
Sementara SM Digital Market Management Telkom Indonesia Dody Djunaedi menuturkan bahwa UEA juga sudah mendirikan Mohamed Bin Zayed University of Artificial Intelligence (MBZAI) dengan program studi AI yang sinkron kebutuhan pasar.
Hal tersebut lalu selaras dengan visi Indonesia 2045 Development Pillars, di mana salah satunya menekankan pengembangan sumber daya manusia (sdm) serat science technology mastery.
Sri Safitri pun menambahkan, bahwa kerja sama ini juga memiliki potensi buat rencana penelitian beserta MBZAI. Hal ini selain dilakukan dengan Telkom Indonesia, juga bisa dilakukan menggunakan Telkom University.
Kolaborasi semacam ini justru lebih dibutuhkan. sebab, apapun teknologi metaverse dan AI, hanyalah enabler yang membantu perusahaan membentuk transformasi digital. fokus terpenting itu pada people, metaverse serta AI tidak mungkin optimal tanpa rasa seni yang hanya bisa dilakukan insan, ini perlu sdm handal buat membuatkan use case, avatar, dan lainnya, pungkas Sri.

