Kampus Merdeka: Ideal Secara Konsep, Beban Bagi Program Studi
Menyematkan emoji tersenyum, dosen ilmu komunikasi Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta) Mia Dwianna Widyaningtyas, melalu pesan WhatsApp, menyampaikan kendala yang dialaminya mengenai program Kampus Merdeka.
Kampus Merdeka yang merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar ini diluncurkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim pada Januari 2020. Di awal program ini muncul, Mia menilai bagus secara konsep karena memberi kesempatan bagi mahasiswa mendapatkan ilmu lebih luas dari luar kampus.
“Tapi Pak Menteri larinya terlalu kencang. Sementara program studi sebagai ujung tombak belum siap dalam hal konversi kurikulum,” kata Mia kepada Tempo, Jumat, 27 Agustus 2021.
Terdapat empat poin Kampus Merdeka yang ditawarkan Nadiem untuk perguruan tinggi. Yaitu, kemudahan membuka program studi baru, perubahan sistem akreditasi kampus, kemudahan status kampus menjadi badan hukum, dan hak belajar 3 semester di luar program studi.
Poin keempat ini lah yang dikeluhkan Mia. Mengenai hak belajar 3 semester di luar prodi ini, Kemendikbud menawarkan berbagai program. Pertama, mobilitas mahasiswa selama 1 semester di perguruan tinggi terbaik dunia. Program bernama Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) ini memberikan kesempatan pada mahasiswa, untuk mengambil mata kuliah hingga 20 sistem kredit semester (SKS) di perguruan tinggi mitra di luar negeri.
Program kedua adalah Kampus Mengajar yang membantu peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan dasar. Lalu program Magang Bersertifikat di mana mahasiswa akan mendapat pengalaman kerja di industri atau dunia profesi nyata selama 1-2 semester.
Kemudian program Membangun Desa (KKN Tematik), Pertukaran Mahasiswa Merdeka, Proyek Kemanusiaan, Riset atau Penelitian. Program berikutnya Studi Independen Bersertifikat di mana mahasiswa dapat kesempatan belajar dan mengembangkan diri melalui aktivitas di luar kelas perkuliahan, namun tetap diakui sebagai bagian dari perkuliahan. Terakhir adalah program Wirausaha.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek, Nizam, memastikan selalu memonitor dan mengevaluasi untuk memberikan umpan balik sebagai bagian dari perbaikan. Hal tersebut juga secara paralel dilakukan untuk program Kampus Merdeka di tahun depan.
Kendala yang dihadapi kementerian, Kampus Merdeka sebagai program baru dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi memerlukan perubahan mindset yang mendasar.
Bahkan, kata Nizam, bagi banyak perguruan tinggi bisa jadi seperti keluar dari zona nyaman dan memasuki dunia baru pembelajaran milenial yang lebih fleksibel dan adaptif dengan dinamika perubahan. Semua aspek perlu ditata ulang, mulai dari regulasi, standar, kurikulum, sampai ke cara pembelajaran.
“Terlebih dengan hadirnya pandemi Covid-19 dua tahun ini yang sangat mengendala transformasi yang sedang kita lakukan,” kata Nizam.
Meski begitu, Nizam meyakini dengan bergotong royong antarkampus bersama pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan, berbagai kendala tersebut bisa diatasi.
Mengenai kendala yang disampaikan baik Mia maupun Rakhmat, Nizam mengakui bahwa kebijakan turut berdampak pada bertambahnya pekerjaan administrasi. Meski masalah ada pada internal perguruan tinggi, pihaknya berupaya memperbaiki sistem. “Dengan sistem informasi yang baik, harapan kami ke depan akan semakin lancar dan meminimalisir administrasi,” tutur Nizam.
Sources : https://nasional.tempo.co/read/1499641/kampus-merdeka-ideal-secara-konsep-beban-bagi-program-studi/full&view=ok
