Krisis Iklim Mempengaruhi Kesehatan
Krisis Iklim Mempengaruhi Kesehatan – Ketika membicarakan dampak krisis iklim, mungkin yang pertama terlintas adalah bencana alam seperti banjir dan kebakaran hutan. Namun, pada kenyataannya krisis iklim sedang dan terus akan mengancam seluruh sendi kehidupan manusia di bumi. Dampaknya pada kesehatan manusia tak hanya timbul dari bencana alam, tetapi juga serangkaian perubahan lainnya yang tak bisa dianggap remeh.
Fenomena krisis iklim global dan lokal
Rentetan peristiwa bencana alam memenuhi surat kabar dan lini masa sosial media kita akhir-akhir ini. Kota Sintang, Kalimantan Barat terendam banjir selama berminggu-minggu. Banjir bandang menerjang Kota Batu, Jawa Timur. Beberapa kota di pesisir utara Pulau Jawa tenggelam karena banjir rob. Banjir tidak hanya terjadi di Indonesia. Pada pertengahan tahun 2021 beberapa kota di Eropa Barat, China, Vietnam, India, dan Australia juga dilanda banjir. Kebakaran hutan yang semakin tidak terkendali melanda sebagian Yunani, Turki, dan California. Gelombang panas mematikan menghempas sebagian Eropa, AS, dan Kanada.
Cuaca ekstrem disebut sebagai penyebab banjir bandang, kebakaran hutan, dan gelombang panas. Berbagai fenomena tersebut dipicu oleh naiknya suhu rata-rata bumi sebesar 1,1° C di atas tingkat era pra industri (atau pada 1850-an). Pada Konferensi Perubahan Iklim COP 26 yang digelar di Glasgow, Badan Meteorologi Dunia (WMO) PBB melaporkan bahwa bumi telah mengalami rekor suhu terpanas dalam tujuh tahun terakhir.
Persepsi masyarakat terhadap krisis iklim
Awalnya, krisis iklim dan perubahan iklim merupakan suatu istilah yang asing bagi kita. Namun, perkembangan teknologi dan informasi mendukung tersebarnya informasi terkait krisis iklim. Krisis iklim bukan suatu hal yang asing atau terlalu ilmiah untuk dibicarakan di berbagai sosial media. Diskusi terkait krisis iklim tidak lagi terbatas di kalangan ilmuwan atau akademisi. Kini krisis iklim marak dibicarakan.
Berdasarkan studi yang mengumpulkan data responden dari berbagai negara di Asia Tenggara, krisis iklim masih belum menjadi konsep yang akrab bagi masyarakat. Meskipun demikian, masyarakat telah menyadari dampak yang diakibatkan oleh krisis iklim, terutama masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada kondisi alam seperti petani dan nelayan.
Sementara itu, nilai pemahaman krisis iklim pada Gen Z (kelahiran sesudah atau pada tahun 1997) di Indonesia pada tahun 2020 sebesar lebih dari 80%. Nilai tersebut didasarkan pada penelitian yang dilakukan pada generasi muda perkotaan dengan akses informasi yang memadai. Mayoritas responden berpendapat bahwa krisis iklim disebabkan oleh aktivitas manusia dan memiliki dampak yang serius. Sayangnya, tingginya kesadaran tidak serta merta menunjukkan komitmen Gen Z untuk melakukan upaya dalam mengatasi krisis iklim.
Dampak krisis iklim terhadap kesehatan
Kesehatan kita berhubungan erat dengan lingkungan tempat kita tinggal, termasuk kondisi iklimnya. Perubahan drastis pada iklim akan secara langsung dan tak langsung mempengaruhi taraf kesehatan manusia melalui berbagai proses langsung dan tidak langsung. Krisis iklim merupakan ancaman terbesar bagi kesehatan masyarakat global. Dalam wawancaranya dengan The Gazette Harvard, Rene N. Salas, seorang ahli iklim dan kesehatan di Harvard Global Health Institute menyatakan bahwa “Climate change is first and foremost a health crisis” atau perubahan iklim pertama dan yang paling utama adalah krisis kesehatan.
Contoh dampak langsung krisis iklim terhadap kesehatan adalah meningkatnya intensitas dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem seperti gelombang panas (heatwave), banjir dan kebakaran hutan yang dapat memakan korban jiwa dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Sementara itu, dampak tidak langsung dapat terjadi melalui memburuknya kualitas udara, perubahan penyebaran penyakit menular, ancaman terhadap suplai makanan dan ketersediaan air bersih, serta pengaruhnya terhadap kesehatan mental.Kita ambil sebuah contoh: perubahan pola curah hujan yang ekstrim. Amerika Selatan dan Asia Tenggara merupakan wilayah yang paling terdampak banjir dan kekeringan sekaligus. Bahkan, beberapa wilayah mengalami kekeringan selama 12 bulan penuh. Kekeringan yang berkepanjangan menjadi salah satu pemicu kematian anak usia dini, berkurangnya hasil panen, kerawanan pangan, dan kekurangan gizi. Sebaliknya, banjir dan curah hujan ekstrem juga memiliki implikasi kesehatan yang parah. Sebanyak 15% dari semua kematian yang terkait dengan bencana alam disebabkan oleh banjir. Selain cedera langsung dan kematian akibat air banjir, banjir memicu dampak jangka panjang terhadap kesehatan, diantaranya penyebaran penyakit menular dan penyakit mental. Dua kondisi tersebut diperburuk oleh rusaknya infrastruktur, rumah, dan mata pencaharian.
