Peran Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas Harga di Tengah Tekanan Global

Dalam beberapa tahun terakhir, dinamika ekonomi global yang ditandai oleh kenaikan harga energi, disrupsi rantai pasok, dan kebijakan moneter ketat di berbagai negara telah menciptakan tekanan terhadap stabilitas harga domestik. Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) memegang peranan strategis dalam menjaga inflasi agar tetap terkendali dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Artikel ini membahas kebijakan, tantangan, dan strategi BI dalam menghadapi tekanan inflasi global berdasarkan data empiris serta pandangan para pakar ekonomi nasional.
1. Latar Belakang: Tekanan Global dan Dampaknya bagi Indonesia
Sejak 2022, dunia menghadapi gelombang inflasi global akibat kombinasi antara pemulihan pasca-pandemi COVID-19, perang Rusia–Ukraina, dan pengetatan kebijakan moneter di negara maju seperti Amerika Serikat.
Harga minyak mentah dunia sempat menembus USD 100 per barel, sementara gangguan rantai pasok internasional menaikkan harga pangan dan bahan baku industri.
Dampak langsung bagi Indonesia antara lain:
- Kenaikan harga impor barang konsumsi dan bahan baku industri,
- Depresiasi nilai tukar rupiah akibat arus keluar modal asing,
- Tekanan inflasi pangan dan energi di pasar domestik.
Kondisi tersebut memaksa Bank Indonesia untuk memainkan peran ganda: menjaga kestabilan harga (inflasi) sekaligus menopang pemulihan ekonomi nasional yang masih berlangsung.
2. Mandat dan Tujuan Utama Bank Indonesia
Sebagai bank sentral independen, Bank Indonesia memiliki tiga pilar utama dalam mandat kebijakan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1999:
- Menjaga stabilitas nilai rupiah,
- Menjamin stabilitas sistem keuangan, dan
- Mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Stabilitas nilai rupiah diukur dari dua aspek: nilai tukar terhadap mata uang asing dan daya beli masyarakat terhadap barang dan jasa — yang tercermin dalam laju inflasi.
Sejak 2005, BI menerapkan kerangka Inflation Targeting Framework (ITF) dengan sasaran inflasi tahunan yang diumumkan secara terbuka. Untuk 2025, sasaran inflasi ditetapkan pada 2,5% ± 1%, dan hingga September 2025, realisasi inflasi masih berada dalam kisaran target (sekitar 2,65% year-on-year).
3. Instrumen Kebijakan Bank Indonesia dalam Mengendalikan Inflasi
a. Kebijakan Suku Bunga (BI Rate / BI-Rate)
BI menggunakan suku bunga acuan (BI Rate / BI 7-Day Reverse Repo Rate) sebagai instrumen utama dalam mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas rupiah.
Pada tahun 2024, BI sempat menaikkan suku bunga hingga 6,25% untuk menahan tekanan inflasi dan pelemahan rupiah akibat penguatan dolar AS. Namun pada pertengahan 2025, BI menurunkan suku bunga menjadi 5,75% karena tekanan eksternal mulai mereda dan inflasi domestik terkendali.
Kebijakan ini menunjukkan pendekatan “data-dependent dan forward-looking”, di mana BI menyesuaikan langkahnya berdasarkan proyeksi ekonomi, bukan hanya kondisi saat ini.
b. Operasi Pasar Terbuka dan Likuiditas Perbankan
BI melakukan operasi moneter harian dan mingguan untuk mengatur jumlah uang beredar (M2). Melalui mekanisme ini, BI menjaga agar likuiditas perbankan cukup untuk mendukung pembiayaan ekonomi, namun tidak berlebihan hingga mendorong inflasi.
Selain itu, BI memperkuat instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) untuk menarik dana asing tanpa mengguncang pasar uang domestik.
c. Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah sangat sensitif terhadap dinamika global. Ketika terjadi arus keluar modal asing, BI melakukan intervensi di pasar valas melalui penjualan dolar AS dan pembelian surat berharga negara (SBN) untuk menahan volatilitas.
Menurut data BI, intervensi dilakukan secara terukur agar tidak menguras cadangan devisa, yang pada Agustus 2025 tercatat mencapai USD 144,5 miliar — cukup untuk menutupi kebutuhan impor lebih dari 6 bulan.
d. Koordinasi Kebijakan dengan Pemerintah (Tim Pengendalian Inflasi Nasional – TPIN)
Sejak 2017, BI aktif dalam TPIP (Tingkat Pusat) dan TPID (Tingkat Daerah) untuk mengendalikan inflasi pangan. Melalui forum ini, BI bekerja sama dengan kementerian, BUMN, dan pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok seperti beras, cabai, dan minyak goreng.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa pengendalian inflasi tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter, tetapi juga koordinasi lintas sektor.
4. Tantangan Bank Indonesia di Tengah Tekanan Global
a. Kebijakan Moneter Global yang Ketat
Ketika bank sentral utama dunia seperti The Federal Reserve (AS) menaikkan suku bunga, modal asing cenderung keluar dari negara berkembang seperti Indonesia. Hal ini menekan nilai tukar rupiah dan berpotensi meningkatkan harga impor.
Menurut ekonom senior INDEF, Eko Listiyanto, BI harus menyeimbangkan antara menjaga daya tarik investasi melalui suku bunga tinggi dan mendukung kredit domestik agar pertumbuhan ekonomi tidak melambat.
b. Ketergantungan terhadap Pangan dan Energi Impor
Kenaikan harga global komoditas seperti minyak dan gandum berdampak langsung terhadap inflasi domestik. Meskipun BI tidak dapat mengendalikan harga global, kebijakan stabilisasi nilai tukar dan komunikasi publik yang konsisten dapat membantu meredam ekspektasi inflasi di masyarakat.
c. Risiko Geopolitik dan Ketidakpastian Pasar Global
Situasi politik global yang tidak menentu dapat memicu volatilitas di pasar keuangan. BI perlu menjaga cadangan devisa yang memadai dan memperkuat kerja sama dengan bank sentral lain untuk memastikan kestabilan sistem keuangan nasional.
5. Pandangan dan Analisis Pakar
Menurut Josua Pardede (Ekonom Bank Permata), langkah BI yang menjaga suku bunga tinggi hingga inflasi benar-benar stabil merupakan keputusan tepat di tengah ketidakpastian global. “Kebijakan BI yang hati-hati membantu menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali, sekaligus menjaga stabilitas rupiah dari guncangan eksternal,” ujarnya.
Sementara itu, Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI, menegaskan bahwa komunikasi kebijakan yang transparan adalah kunci menjaga kepercayaan pasar. BI secara rutin mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur dan publikasi laporan moneter agar pelaku ekonomi dapat menyesuaikan ekspektasi dan keputusan investasinya.
Laporan OECD Economic Outlook 2025 juga menilai BI berhasil menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global, dengan inflasi yang tetap di bawah 3% dan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,1%.
6. Arah Kebijakan ke Depan
Untuk mempertahankan stabilitas harga dan nilai tukar di tengah ketidakpastian global, BI akan terus memperkuat kebijakan berbasis data dan koordinasi lintas lembaga melalui beberapa langkah strategis:
- Mempertahankan inflasi dalam sasaran target 2,5% ±1%.
Fokus pada pengendalian inflasi pangan bergejolak dengan memperkuat koordinasi TPIP/TPID. - Menjaga nilai tukar rupiah agar tetap stabil.
Melalui intervensi valas terukur, peningkatan cadangan devisa, dan pemanfaatan instrumen SRBI–SVBI. - Mendorong pembiayaan hijau dan inklusif.
BI mulai mengarahkan kebijakan makroprudensial ke sektor-sektor produktif seperti UMKM dan energi terbarukan. - Digitalisasi sistem pembayaran nasional.
Implementasi QRIS lintas negara dan BI-FAST diharapkan dapat meningkatkan efisiensi transaksi dan mendukung stabilitas keuangan.
7. Kesimpulan
Peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas harga di tengah tekanan global sangat vital bagi ketahanan ekonomi nasional. Melalui kebijakan moneter yang hati-hati, koordinasi dengan pemerintah, serta komunikasi yang konsisten, BI berhasil menjaga inflasi dalam sasaran target sekaligus mempertahankan kepercayaan pasar terhadap rupiah.
Ke depan, tantangan global akan tetap ada — mulai dari fluktuasi harga energi hingga kebijakan moneter negara maju — namun dengan pendekatan kebijakan yang adaptif dan terkoordinasi, Bank Indonesia terbukti menjadi jangkar stabilitas ekonomi Indonesia di tengah badai global.
