Tata Cara Membuat Bodynote yang Baik dan Benar
Hal pertama yang kamu perlu pahami dari catatan tubuh adalah pengertiannya. Catatan tubuh atau bodynote merupakan salah satu cara untuk menuliskan sumber informasi atau sumber kutipan di dalam karya tulis ilmiah. Penempatan catatan tubuh diletakan setelah kutipan selesai ditulis.
Keberadaannya akan membantu pembaca karya tulis untuk mengetahui sumber kutipan tersebut. Sehingga bisa memberi informasi bahwa kutipan yang ditulis di dalam karya tersebut adalah kutipan yang berasal dari sumber atau referensi kredibel. Selain itu, bisa menambah wawasan bagi pembaca.
Sebab sumber kutipan biasanya dalam bentuk karya tulis entah itu buku, jurnal ilmiah, maupun jenis tulisan lain. Sehingga di kesempatan lain bisa dicari oleh pembaca untuk menambah wawasan mereka terkait topik yang dibahas dalam karya yang kamu susun.
Penulisan dari bodynote kemudian tidak bisa asal-asalan, ada aturan untuk membuat karya tulis terlihat rapi dan sudah memenuhi standar. Penulisannya akan mencantumkan beberapa poin, seperti:
Nama Belakang Pengarang
Pada dasarnya pada penulisan catatan tubuh terdapat tiga poin atau unsur utama, dan yang pertama adalah nama pengarang. Skema penulisannya adalah mengambil nama akhir atau nama belakang pengarang yang karyanya dijadikan referensi. Sekaligus apa yang ditulis dikutip dalam karya yang disusun.
Bagaimana jika referensi kutipan disusun oleh dua pengarang? Maka biasanya akan ditulis nama belakang pengarang pertama dan kemudian disusul dengan kata dan dan nama belakang pengarang kedua. Sedangkan jika lebih dari dua penulis, maka menuliskan nama belakang pengarang pertama diikuti kata “dkk” atau dan kawan-kawan.
Tahun Terbit
Unsur berikutnya dalam penulisan catatan tubuh atau bodynote adalah tahun terbit. Sehingga disebutkan tahun dimana buku atau karya jenis lain yang dijadikan referensi dicetak oleh penerbit. Misalnya suatu buku diterbitkan tahun 2007 maka dalam catatan tubuh setelah nama pengarang ditulis tahun terbitnya.
Mengapa tahun terbit dicantumkan? Jika muncul pertanyaan ini, maka pada dasarnya jawabannya sederhana. Yakni karena memang sudah aturannya demikian. Sehingga setiap penulis perlu mengikuti aturan ini untuk memastikan proses penulisan catatan tubuh sudah baik dan benar.
Selain itu, dengan mencantumkan tahun terbit maka bisa menjadi sumber informasi tahun terbit referensi yang digunakan. Hal ini penting untuk memastikan penulis menggunakan referensi terbaru sebagai referensi yang relevan. Mengingat ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang.
Menjumpai kutipan yang sumbernya sudah terbit sekian dekade tentu perlu diragukan kualitas referensi tersebut. Bisa jadi sudah tidak lagi relevan. Hanya saja tidak semua referensi lama tidak relevan, referensi lama ini dikatakan tidak relevan ketika sudah ada cetakan terbaru atau terbitan terbaru.
Selain itu, juga karena ada pengembangan atau mungkin karya tulis yang membantah teori di dalam referensi tersebut. Sehingga ilmu atau informasi di dalamnya sudah tidak bisa lagi dikatakan relevan. Sedangkan untuk referensi yang masih tetap dijadikan acuan meskipun terbitnya sudah 10 tahun lalu, maka masih bisa digunakan.
Halaman Referensi
Unsur berikutnya di dalam bodynote adalah halaman kutipan tersebut berada di sumber atau referensi yang digunakan. Misalnya saja mengutip apa yang disampaikan penulis A dalam buku berjudul B. Kutipan tersebut berada di halaman 110. Maka halaman 110 ini perlu dicantumkan saat membuat catatan tubuh.
Tiga unsur tersebut adalah wajib ada, untuk memastikan catatan tubuh yang dibuat memang sudah mengikuti aturan yang ada. Sumber yang tercantum dengan benar akan memberi informasi secara detail dan jelas kepada pembaca. Jadi, jangan hanya mencantumkan nama pengarang tanpa tahun maupun halaman. Cantumkan ketiganya sekaligus.
Fungsi Bodynote yang Perlu Kamu Ketahui
Jika kemudian bertanya mengenai fungsi atau tujuan dari pembuatan catatan tubuh dalam suatu karya tulis. Maka pada dasarnya fungsi yang diberikan adalah sama seperti fungsi dari footnote atau catatan kaki dan endnote. Fungsi tersebut antara lain:
1. Memperkuat Pendapat Penulis
Fungsi pertama dari catatan kaki dalam mencantumkan referensi yang menguatkan pendapat penulis. Jadi, pada saat penulis ini mengemukakan suatu teori atau pendapat maka tidak bisa asal. Harus ada sumber yang memberi dukungan, sehingga apa yang ditulis bukan karangan semata.
Adanya catatan tubuh yang mengakhiri kutipan membantu menjelaskan sumber referensi yang menguatkan pendapat tadi. Sehingga pendapat yang disampaikan dalam tulisan memang pernah diteliti dan memang benar. Hal ini penting agar pendapat atau teori yang disampaikan punya landasan kuat dan bisa dipercaya.
2. Menunjukan Sumber Referensi Terpercaya
Fungsi kedua adalah menunjukan sumber referensi yang terpercaya dan telah digunakan penulis untuk menyusun karya tulis yang sedang dibaca pembaca. Hal ini menjadikan karya tulis tersebut lebih sempurna karena didasari dari referensi yang kredibel.
Referensi terbaik akan membantu menyusun karya tulis yang terbaik juga. Sehingga menjadi hal penting dalam setiap penyusunan karya ilmiah. Supaya kualitas karya tersebut sama baiknya dengan referensi yang dijadikan acuan. Selain itu tidak ada unsur yang mengada-ngada.
3. Membantu Memperluas Wawasan Pembaca
Menambahkan bodynote dalam suatu karya tulis juga berfungsi membantu pembaca memperluas wawasannya. Sebab bisa mengetahui referensi yang digunakan. Dimana akan berisi informasi nama pengarang dan tahun terbit, detailnya bisa ditemukan di catatan kaki bila ada atau di daftar pustaka.
Karya tulis yang menambahkan catatan tubuh pada akhirnya akan membantu pembaca menemukan lebih banyak bacaan menarik dan berkualitas. Sekaligus yang sesuai dengan topik atau bidang keilmuan dari karya tulis yang sudah dibaca tadi. Hal ini akan membantu pembaca mendapat informasi lebih detail.
Sebab tidak hanya membaca satu referensi dan satu karya tulis, melainkan bisa membaca lebih banyak referensi. Hal ini juga penting untuk siapa saja yang menjadikan karya tulis yang dibaca sebagai referensi. Sehingga bisa menemukan referensi yang menyampaikan informasi lebih detail melalui catatan tubuh tersebut.
4. Membantu Memudahkan Pembaca Memahami Tulisan
Keberadaan catatan tubuh atau bodynote juga memberi solusi praktis bagi pembaca. Yakni mengetahui sumber kutipan dengan detail, tanpa harus menengok ke bagian margin bawah untuk mengecek catatan kaki atau footnote. Selain itu, tidak perlu juga langsung menuju ke halaman daftar pustaka.
Sebab apapun yang dikutip dari referensi yang digunakan untuk menulis bisa langsung terbaca. Mengingat di dalam catatan tubuh memang keterangan sitasi langsung dicantumkan di dalamnya. Langkah ini tentu lebih praktis, sekaligus membantu penulis menyajikan kutipan lengkap sesuai dengan kaidah yang ada.
Metode Penulisan Bodynote
Selanjutnya adalah metode penulisan, atau lebih tepatnya bisa disebut dengan teknik penulisan catatan tubuh. Pada dasarnya teknik penulisan ini akan sama persis dengan teknik penulisan kutipan. Sebab kutipan sendiri terdapat bodynote di dalamnya, sebuah kutipan akan menjadi kurang sempurna tanpa adanya catatan tubuh.
Berikut adalah dua jenis cara untuk menuliskan catatan tubuh di dalam karya tulis:
1. Semua Unsur Diletakan dalam Tanda Kurung
Metode penulisan yang pertama adalah menuliskan semua unsur catatan tubuh di dalam tanda kurung. Mulai dari nama pengarang, tahun terbit, dan halaman dimana kutipan diambil. Berikut contoh detailnya:
- Menyusun perencanaan menjadi hal penting dalam melaksanakan kegiatan apapun. (Reni, 1993: 14).
- Resensi adalah pertimbangan buku, pembicaraan buku, atau ulasan buku dengan bahasa yang agak mentereng, berarti membedah, menganalisa, dan mencari roh atau inti dari buku. (Keraf, 2001: 247).
Dari dua contoh tersebut tentu bisa diketahui bahwa semua unsur catatan tubuh diletakan di dalam tanda kurung. Penulisan dengan teknik ini biasanya dilakukan dalam kutipan langsung sehingga sitasi disebutkan secara detail. Berbeda dengan kutipan tidak langsung yang biasanya sitasi hanya berisi nama dan tahun terbit referensi.
2. Unsur Selain Nama Diapit Tanda Kurung
Teknik kedua dalam penulisan bodynote adalah meletakan unsur catatan tubuh secara terpisah, yakni nama sebelum tanda kurung dan sisanya (yakni tahun dan halaman) di dalam tanda kurung. Berikut contohnya:
- Sebagaimana yang disampaikan oleh Reni (1993: 14), Menyusun perencanaan menjadi hal penting dalam melaksanakan kegiatan apapun.
- Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Keraf (2001: 247) yang menjelaskan bahwa Resensi adalah pertimbangan buku, pembicaraan buku, atau ulasan buku dengan bahasa yang agak mentereng, berarti membedah, menganalisa, dan mencari roh atau inti dari buku.
Melalui dua teknik tersebut maka penulis bisa memilih hendak memakai teknik yang mana. Namun bisa juga disesuaikan dengan konteks atau bentuk tulisan, jika memang lebih tepat memakai teknik yang pertama maka bisa diterapkan. Begitu juga jika sebaliknya. Poin kuncinya adalah strukturnya tetap sesuai dengan aturan yang ada.
Contoh Bodynote
Berhubung teknik atau metode dalam menuliskan bodynote ini ada dua, selain itu sumber referensi juga bisa dari banyak jenis referensi. Maka berikut masing-masing contohnya:
1. Contoh Bodynote dari Skripsi
Suparno, dkk. (2010: 105) menerangkan kutipan yang berisi 40 kata atau lebih ditulis tanpa tanda kutip secara terpisah dari teks yang mendahului, ditulis dengan margin 1,2 cm dari garis tepi sebelah kiri dan kanan dan diketik dengan spasi tunggal.
Atau bisa juga ditulis seperti ini:
Suparno, dkk (2010: 105) menjelaskan bahwa
Kutipan yang berisi 40 kata atau lebih ditulis tanpa tanda kutip secara terpisah dari teks yang mendahului, ditulis dengan margin 1,2 cm dari garis tepi sebelah kiri dan kanan dan diketik dengan spasi tunggal.
2. Contoh Bodynote dari Jurnal
Menurut Lull (1995: 31-38), di titik inilah esensi hegemoni: hubungan di antara agen-agen utama yang menjadi alat sosialisasi dan orientasi ideologis, yang berinteraksi, kumulatif, dan diterima oleh masyarakat
atau bisa juga ditulis seperti ini.
Pada titik inilah esensi hegemoni: hubungan di antara agen-agen utama yang menjadi alat sosialisasi dan orientasi ideologis, yang berinteraksi, kumulatif, dan diterima oleh masyarakat (Lull, 1995: 31-38)
Melalui penjelasan di atas tentu bisa dipahami bahwa bodynote merupakan salah satu metode penulisan sumber referensi. Umumnya dicantumkan saat menyusun karya tulis ilmiah baik itu jurnal ilmiah, skripsi, makalah, dan lain sebagainya.
Sehingga untuk siapa saja yang sedang menyusun karya tulis ilmiah sebaiknya paham betul apa itu catatan tubuh dan tata cara pembacaan maupun penulisan strukturnya seperti apa. Sehingga bisa menampilkan catatan tubuh yang tepat dan sesuai dengan kaidah atau aturan yang berlaku.
source : https://www.duniadosen.com/bodynote/
