Mari Simak Apa itu Hashing?
Hashing adalah proses dalam menghasilkan Fixed-Sized Output dari Variable-Sized Input melalui penggunaan rumus matematika yang kita kenal sekarang dengan sebutan Hash Function. Dalam kripto yang memiliki banyak aset, penggunaan algoritma dari Hashing akan berbeda dalam membuat berbagai macam kode Hash.
Hashing bisa dikatakan sebagai hal yang paling mendasar dalam dunia Bitcoin, karena memiliki fungsi untuk mengamankan data dan sekaligus menjadi kriptografi satu arah, yang mana berbeda dengan sistem keamanan enkripsi. Hashing berjalan dengan menggunakan sistem kriptografi satu arah, sedangkan enkripsi berjalan dua arah.
Dalam memahami Hashing, maka kita akan menemukan dua karakteristik yang berbeda namun saling berkaitan. Pertama, Input yang sama maka akan selalu menghasilkan Output yang sama. Kedua, tidak ada cara lain untuk membalikkan dari Output menjadi Input.
Hashing adalah bagian dari kode alfanumerik dengan panjang yang telah ditentukan dengan tetap sebagai perwakilan dari pesan, data dan kata. Hashing sendiri berawal dari kata Hash yang mana diartikan sebagai Sidik Jari dalam rangkuman data digital.
Kode Hash dalam algoritma yang sempat disinggung di bagian atas tadi akan menghasilkan alfanumerik secara acak, kode ini merupakan angka yang tertulis dalam bilangan notasi Hexadecimal yang bisa dipahami seperti di bawah ini:

Misalnya, dalam Bitcoin telah menggunakan sebuah algoritma Hashing dengan nama SHA-256. Maka, jika kita bagikan dalam bilangan Hashing dengan memasukkan Input dan menghasilkan Output dengan nilai Hashing yang sama, maka akan menjadi seperti berikut:
Lebih lanjut, Anda bisa langsung mengunjungi situs web berikut ini untuk dapat mencobanya sendiri. Anda dapat memasukkan beberapa kata dan pesan yang kemudian bisa langsung melihat Output apa yang dikeluarkan.
Fungsi Hashing
Hashing memiliki beberapa fungsi yang bekerja dalam dunia kripto, beberapa fungsi tersebut diantaranya ialah sebagai berikut:
1. SHA-1
SHA-1 atau Secure Hash Algorithm 1 merupakan fungsi Hash yang bekerja dengan mengambil Input untuk menghasilkan nilai 20-bit. Sendiri memiliki 40 digit heksadesimal dan telah dirancang khusus oleh Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA).
2. SHA-2 & SHA-3
SHA-2 pertama kali dikembangkan pada tahun 2001, kedua jenis ini merupakan bagian lanjutan dari SHA-1. Jenis algoritma yang satu ini terdiri dari enam fungsi Hash dengan ukuran Digest yang berbeda-beda.
Beberapa waktu setelahnya, munculah SHA-3 yang telah dikembangkan oleh lembaga di luar dari NSA dan dirilis oleh NIST dengan umur yang tergolong muda, di mana dirilis pada 2015 lalu. Penggunaan dari SHA-3 ini hanya digunakan ketika fungsi MD5 dan SHA-1 tidak memberikan respons yang diharapkan.
3. MD5
Sering kali digunakan bersamaan dengan nilai Hash 128-bit, di mana telah dimanfaatkan dalam sejumlah program keamanan seperti internet standar atau RFC 1321. MD5 sendiri merupakan salah satu pengganti MD4 yang mana telah dikembangkan oleh Ronald Rovest.
4. RIPEMD-106
RIPEMD (Race Integrity Primitive Evaluation Message Digest) adalah algoritma yang dikembangkan dari MD4. RIPEMD-106 telah disusun dari konstruksi Merkle-Damgard dan masuk ke dalam standar keamanan Bitcoin. Jenis yang satu ini memang dikenal memiliki performa yang lebih cepat dan bertenaga untuk mengurangi data yang di pending.
Source : https://www.nesabamedia.com/docs/h/hashing/
