Ciri-Ciri Jurnal Predator yang Wajib Dipahami
Setiap dosen dan peneliti memiliki kebutuhan untuk memahami ciri-ciri jurnal predator supaya bisa lebih mudah menghindarinya. Jurnal predator adalah salah satu resiko dari proses publikasi hasil penelitian dan harus diwaspadai.
Kemunculan jurnal predator memang memanfaatkan kesempatan di tengah perlunya publikasi hasil penelitian. Dosen dan peneliti tentu memahami betapa sulitnya proses publikasi tersebut. Kondisi ini kemudian dimanfaatkan oleh pelaku seperti penerbit jurnal predator untuk mengambil keuntungan. Modusnya adalah memberi iming-iming jurnal yang disusun pasti terbit. Padahal, jurnal predator memiliki dampak signifikan pada kualitas jurnal dan reputasi penulisnya. Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Publikasi Karya Ilmiah Adalah Kebutuhan
Usai melakukan kegiatan penelitian, baik dosen maupun para peneliti akan menyusun hasil penelitian ke dalam karya tulis ilmiah. Karya tulis berisi hasil penelitian ini kemudian akan dipublikasikan, dan merupakan kebutuhan sekaligus kewajiban.
Publikasinya sendiri membantu hasil penelitian untuk dimanfaatkan lebih banyak orang. Sekaligus bisa dijadikan referensi bagi siapa saja untuk menyusun karya tulis ilmiah lainnya dengan tema atau topik yang sama maupun yang masih berhubungan.
Sementara kalangan dosen, publikasi karya ilmiah diperuntukan untuk berbagai tujuan. Mulai dari mempublikasikan hasil penelitian kepada khalayak, mengajukan diri memangku jabatan akademik dosen, memenuhi syarat mengikuti program beasiswa, sertifikasi dosen, dan lain sebagainya.
Proses publikasi ini perlu teliti dan hati-hati untuk menghindari jurnal predator, sehingga wajib paham apa saja ciri-ciri jurnal predator tersebut. Selain dalam bentuk jurnal, proses publikasi bisa dilakukan di media lain.
Mulai dari koran atau surat kabar, majalah, website, dan tentunya jurnal ilmiah. Meskipun publikasi hasil penelitian lewat media jurnal ilmiah rawan terkena jurnal predator., Namun tetap dijadikan yang utama, karena lebih bergengsi dan diakui.
Mengapa bisa demikian? Sebab publikasi karya ilmiah dalam bentuk jurnal ilmiah memiliki sejumlah keunggulan berikut ini:
1. Terdapat Proses Peer Review
Keunggulan pertama publikasi karya ilmiah di jurnal adalah karena terdapat proses peer-review. Yakni proses mengulas yang dilakukan oleh reviewer yang ahli di bidang tertentu, sesuai dengan topik dari karya tulis ilmiah tersebut.
Sehingga isi dari karya tulis ini dijamin sesuai dengan bidang ilmu secara umum dan topiknya pun dipastikan sesuai. Hal ini memastikan jurnal tersebut berkualitas karena isinya memang dari satu bidang ilmu saja, bukan campuran.
2. Melalui Proses Penyuntingan
Selain diulas oleh ahli di suatu bidang keilmuan, jurnal ilmiah akan dijamin bebas ciri-ciri jurnal predator karena melewati proses penyuntingan. Yakni proses menyunting yang dilakukan oleh tim editor suatu penerbit.
Proses penyuntingan ini umumnya dilakukan editor yang sudah terbiasa menyunting artikel atau jurnal ilmiah. Selain itu, editor juga lebih paham mengenai tata bahasa. Sehingga bisa dipastikan isinya memakai bahasa yang baku dan benar sekaligus bebas typo atau kesalahan ketik.
3. Dipublikasikan Penerbit Terkemuka
Jurnal ilmiah juga menjadi media publikasi yang lebih bergengsi karena diterbitkan oleh perusahaan atau penerbit profesional. Sehingga jelas siapa yang menerbitkannya, dan dijamin mengikuti prosedur penerbitan yang sesuai dengan aturan.
Hal ini tidak hanya menjamin publikasinya sesuai aturan saja namun juga menjamin isi jurnal ilmiah tersebut berkualitas. Sebab pihak penerbit tentu tidak akan mengambil resiko menerbitkan jurnal yang isinya sembarangan dan serampangan.
Model Publikasi dalam Bentuk Jurnal Ilmiah
Sebelum sampai ke pembahasan ciri-ciri jurnal predator, maka bisa memahami dulu asal muasal dari jurnal predator tersebut. Yakni dari jurnal ilmiah yang memang hadir dalam beberapa model. Yaitu:
1. Jurnal Tradisional
Model jurnal yang pertama adalah jurnal tradisional, model jurnal satu ini membebankan biaya yang lebih sedikit kepada penulis atau bahkan tanpa biaya sama sekali.
Sebab sejak proses submit, peer review, dan penyuntingan biasanya tidak dikenakan biaya. Proses review biasanya biaya akan ditanggung oleh reviewer tersebut sedangkan untuk penyuntingan, biaya ditanggung oleh pembaca.
Artinya, jurnal tradisional hanya bisa diakses oleh pembaca yang sudah membayar sejumlah biaya. Sehingga sifatnya tidak gratis, namun memudahkan penulis melakukan publikasi tanpa harus keluar biaya yang tinggi.
2. Jurnal Open Access
Model jurnal ilmiah yang kedua adalah jurnal open acces yang dikenal juga dengan istilah jurnal OA. Jurnal OA merupakan jurnal tradisional yang untuk akses membaca isinya tidak lagi berbayar atau gratis.
Meskipun memudahkan pembaca untuk mengakses isi jurnal tanpa keluar biaya, namun penulis perlu mengeluarkan biaya yang lumayan. Jurnal OA ini juga banyak dipilih dosen dan peneliti karena meskipun mahal namun proses publikasinya mudah dan cepat.
Selain itu, jurnal OA lebih sering digunakan sebagai referensi dan sering dijadikan bahan diskusi sehingga pamornya mudah naik. Hanya saja adanya jurnal OA juga membuka peluang bagi penerbit jurnal predator untuk beraksi.
3. Jurnal Campuran
Model jurnal yang ketiga adalah jurnal campuran, sesuai dengan namanya. Jurnal ilmiah jenis ini merupakan jurnal tradisional yang sebagian isinya merupakan jurnal OA dan sebagian lagi jurnal berbayar.
source : duniadosen.com
