Sistem Kontrol Dasar
Sistem Kontrol Dasar – Berbagai macam disiplin ilmu yang menjadi bahan perkuliahan di perguruan tinggi, pada akhirnya bermuara menjadi satu di sebuah sistem perusahaan dan menghasilkan produk bermanfaat bagi manusia. Saya pun tidak menyangka pada awalnya, bahwa teknik mesin, teknik elektronika, teknik sipil, kimia terapan, fisika terapan, teknik informatika, teknik kontrol dan instrumentasi, dan masih banyak disiplin ilmu lain yang ternyata dapat melebur menjadi satu di sebuah perusahaan pembangkit tenaga listrik. Berbagai peralatan bekerja pada masing-masing disiplin ilmu secara selaras dan terkoordinasi dengan sempurna.
Pengkoordinasian sistem-sistem tersebut melibatkan sebuah sistem kontrol yang sangat kompleks dan terpusat di sebuah ruang kontrol. Sistem kontrol yang ada berfungsi untuk mempermudah operator mengoperasikan pembangkit listrik agar efisien dan reliable. Dan pada kesempatan kali ini akan kita bahas sistem kontrol dasar yang digunakan pada pembangkit listrik tenaga uap.
Sesuai dengan kemajuan teknologi, sistem kontrol otomatis lebih tepat digunakan pada benyak penggunaan daripada kontrol manual. Ada beberapa alasan yang menyertai pernyataan tersebut, yaitu:
- Pertama adalah sistem terotomatisasi mengurangi faktor human error (kesalahan manusia) pada sistem operasi, sehingga lebih menciptakan sistem kerja yang aman bagi keselamatan manusia.
- Kedua adalah sistem terotomatisasi mengurangi jumlah pekerja/operator sehingga dapat menghemat biaya pekerja.
- Ketiga yaitu sistem terotomatisasi lebih efisien daripada sistem manual, karena sistem kontrol otomatis lebih cepat merespons dan akurat dibandingksn sistem manual pada saat terjadi perubahan kondisi proses kerja.
Sistem kontrol dapat diklasifikasikan berdasarkan cara kerjanya menjadi dua jenis, yaitu tipe ON-OFF dan tipe modulating. Tipe ON-OFF berfungsi untuk menghasilkan sistem kontrol yang tetap (discrete). Salah satu contohnya adalah pada saat menyalakan dan mematikan sebuah motor listrik. Sistem kontrol hanya memiliki dua perintah untuk motor listrik tersebut, yaitu perintah start dan stop saja. Sedangkan pada sisi motor, ia juga hanya memiliki dua feedback yaitu motor berputar dan motor berhenti berputar.
Sistem kontrol modulating memberikan output perintah yang dapat bervariasi secara smooth dari nilai satu ke yang lainnya. Sebagai contoh adalah pada pengaturan debit aliran suatu fluida di dalam pipa dengan menggunakan sebuah control valve. Aliran fluida dapat disesuaikan besarnya sesuai dengan kebutuhan dengan mengatur besar bukaan valve tersebut.
Salah satu contoh penggunaan kontrol ON-OFF dan kontrol modulating (modulasi) adalah pada saat Anda mengendarai kendaraan bermotor. Saat Anda menyalakan mesinnya, itu berarti Anda sedang menggunakan kontrol ON-OFF, memutar kunci mobil Anda dan mendapati mesin mobil Anda menyala. Dan kontrol modulating Anda bisa dapatkan pada saat Anda mengatur pedal gas kendaraan Anda. Dengan menggunakan indikator speedometer pada dashboard Anda, Anda dapat mengatur besar tekanan pada pedal gas sehingga mendapatkan kecepatan mobil yang sesuai dengan keinginan Anda.
Kontrol ON-OFF
Kontrol ON-OFF memiliki banyak istilah lain yaitu kontrol digital, binary control, discrete control, kontrol sekuen, atau motor interlock. Fungsi kontrol ini terbagi menjadi beberapa bagian penggunaan pada sebuah pembangkit listrik, yaitu:
- Pada alat berputar berpenggerak motor seperti kipas, pompa, kompresor, dan konveyor.
- Pada valve dan damper yang berpenggerak motor.
- Pada penggerak solenoid seperti shutoff valve pneumatik.
Kontrol Modulasi
Gambar di bawah menunjukkan sistem kontrol pada sebuah heat exchanger yang memanaskan air dengan menggunakan uap air. Temperatur air dijaga pada nilai tertentu dengan cara mengatur supply uap air yang masuk ke heat exchanger.
Elemen dasar yang digunakan pada sistem kontrol modulasi yaitu:
- Variabel terkontrol: Parameter dari proses yang dikontrol pada nilai tertentu sesuai set point.
- Controller: Bagian yang membandingkan antara variabel terkontrol dengan nilai set point dan memberikan aksi kontrol untuk mengkoreksi deviasi set point ke nilai nol.
- Variabel manipulasi: Parameter yang divariasikan besarnya sabagai hasil dari aksi kontrol dari controller sehingga dapat mengubah nilai dari variabel terkontrol supaya mendekati nilai set point.
- Elemen kontrol akhir: Alat yang dapat merubah nilai dari variabel manipulasi untuk mengkoreksi nilai deviasi set point berdasarkan aksi kontrol dari controller.
Source : https://artikel-teknologi.com/
