Parasit Seperti di Film Venom Ternyata Ada, Bisa Ubah Serigala
Parasit yang mampu membentuk inangnya lebih agresif seperti pada film Venom ternyata terdapat pada dunia nyata. Bedanya, parasit itu menjangkiti serigala serta bukan manusia.
Di film Venom, diceritakan sebuah parasit dari luar angkasa menjangkiti Eddie Brock. Parasit itu kemudian mengubahnya sebagai semacam monster untung-untung yang proaktif serta berkekuatan luar biasa.
Melansir Live Science, parasit sel tunggal yg diklaim Toxoplasma gondii mampu membuat serigala yg dijangkitinya lebih proaktif dan menjadi pemimpin grup atau malah meninggalkannya. Hal itu diketahui para ahli lewat analisa terhadap lebih dari 200 serigala abu-abu pada Taman Nasional Yellowstone.
“Kami mengidentifikasi peningkatan yg substansial pada kemungkinan penyebaran dan menjadi pemimpin kelompok. ke 2 perilaku itu termasuk berisiko, pada dalam tubuh serigala yg menunjukkan tanda-tanda infeksi T. gondii,” tulis para pakar pada studinya.
“2 histori sikap hidup itu mewakili beberapa asal kebanyakan keputusan krusial yang didesain serigala sepanjang hidupnya serta mungkin saja punya akibat dramatis terhadap kebugaran dan distribusi serigala abu-abu serta taraf kelahiran dan kematian homogen-homogen di sebuah populasi,” tulisnya lagi.
Para pakar tadi menerbitkan akibat penelitian mereka di jurnal Communications Biology. Toxoplasmosis, penyakit yg disebabkan infeksi T. gondii sebetulnya terdapat di mana-mana. Meski parasit itu hanya bisa bereproduksi secara seksual dan merampungkan siklus hidupnya pada kucing liar (singa, harimau dll), T. gondii pula mampu terdapat di inang yaang berdarah hangat termasuk 33 persen manusia.
Baca juga : Cara Mengeluarkan Akun Google dari Hp Android
T. gondii bisa mempunyai akibat jangka panjang semisal infeksi kronis yang memicu peningkatan testosteron dan perubahan perilaku di manusia. tetapi sistem imun yg sehat biasanya cukup buat menangkal tanda-tanda penyakit serta orang yang umumnya tidak tahan imun hanya memiliki gejala semisal pilek.
Pada kasusserigala abu-abu pada Yellowstone, mereka terjangkiti T. gondii lewat berkeliaran di lebih kurang gunung vulkanis yang sama menggunakan kucing cougar yg terinfeksi serta lewat memakan feses kucing lain.
Para pakar mengusut data setara hampir 3 dekade di serigala yang sudah ditangkap, dilepas, serta dimonitor di Yellowstone. Mereka menemukan bahwa serigala yg terinfeksi lebih acapkali terlibat dalam sikap yg berisiko seperti meninggalkan kelompoknya buat memulai lagi yg baru.
Selain itu, para serigala yang terinfeksi cenderung dua kali lebih tinggi mengidentifikasi diri mereka menjadi pemimpin gerombolan . Alhasil, mereka tak jarang berkelahi dengan serigala lain yg pula menjadi kandidat.
Meski menjadikan inangnya lebih proaktif, T. gondii tak lantas membuat serigala itu menjadi pemenang. Serigala hamil yg terinfeksi umumnya malah keguguran, dan serigala yang tidak punya rasa takut lebih tak jarang menderita cedera fatal.
Lebih lanjut, serigala yg terinfeksi pula lebih cenderung menimbulkan berbahaya bagi kelompoknya. Itu Karena mereka tanpa takut memimpin serigala yang lain ke teritori kucing cougar, pada mana mereka jua mampu terinfeksi.
“Studi ini memberikan level interaksi di dalam komunitas mampu berdampak pada perilaku individu serta menimbulkan potensi peningkatan ke level pembuat keputusan buat kelompok,” tulis para ahli.
