19 September : Mengenang Insiden Hotel Yamato Surabaya
Pada 19 September 1945 atau 77 tahun lalu, terjadi peristiwa bersejarah yang dikenal dengan Insiden di Hotel Yamato.
Kejadian tersebut yaitu saat arek-arek Surabaya menggeruduk Hotel Yamato, di Surabaya, Jawa Timur. Mereka menurunkan bendera merah putih biru milik Belanda, merobek warna biru sehingga menyisakan kain merah dan putihnya saja.
Perobekan bendera Belanda ini merupakan salah satu aksi simbolis yang dilakukan masyarakat untuk menyatakan Indonesia telah merdeka. Lebih lanjut, hal ini juga menjadi pernyataan sikap masyarakat Indonesia dalam melawan penindasan oleh penjajah.
Kronologi Insiden Hotel Yamato
Usai proklamasi kemerdekaan, Pemerintah Indonesia gencar menginformasikan kepada rakyat soal makna kemerdekaan.Bendera Merah Putih ditetapkan sebagai bendera nasional dan pemerintah melakukan sosialisasi bendera negara ke semua wilayah.
Pada 18 September 1945, para Sekutu dan Belanda dari Allief Forces Netherlands East Indies (AFNEI) datang di Surabaya.
Mereka berkumpul di Hotel Yamato, Jalan Tunjungan 65, Surabaya. Sejak saat itu, Hotel Yamato sebagai markas Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees atau Bantuan Rehabilitasi untuk Tawanan Perang dan Interniran.
Kemudian, pada 19 September 1945 pukul 21.00 WIB, sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan WVCh Ploegman mengibarkan bendera Belanda (merah, putih, dan biru) di atas hotel.
Keesokan harinya, arek-arek Surabaya yang melihat bendera Belanda berkibar, marah dan murka. Belanda dianggap tak menghargai usaha rakyat Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaan.
Tak pelak, hal itu memicu amarah dari arek-arek Surabaya yang berbuntut pada ketegangan dengan orang-orang Belanda di Hotel Yamato karena bendera itu.
Bendera Belanda itu dikibarkan di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Dalam tempo singkat, Jalan Tunjungan dibanjiri oleh massa yang marah, mereka memadati halaman hotel serta halaman gedung sebelahnya.
Perundingan dengan Pihak Belanda
Massa yang marah lalu menggelar perundingan dengan pihak Belanda. Perundingan digelar antara Residen Surabaya Sudirman dan Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) dengan pihak Belanda, Ploegman.
Dalam perundingan tersebut, Sudirman meminta bendera Belanda diturunkan dari Hotel Yamato. Tanpa tedeng aling Ploegman menolak untuk menurunkan bendera tersebut dan menolak untuk mengakui kedaulatan negara Indonesia.
Perundingan pun berakhir dengan perkelahian hingga menimbulkan korban jiwa, salah satunya Ploegman yang tewas dicekik. Sudirman melarikan diri ke luar Hotel Yamato.
Sementara itu, di luar hotel, para pemuda yang mengetahui gagalnya perundingan itu mendobrak masuk dan terjadilah perkelahian di lobi. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda.
Hariyono, yang semula bersama Sudirman, kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera. Dia bersama Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang kembali. Peristiwa ini disambut oleh arek-arek Suroboyo di bawah hotel dengan pekik ‘Merdeka’ berulang kali.
Peristiwa ini ini tidak membuat Belanda dan sekutu pergi dari Surabaya. Pada 27 Oktober 1945 pertempuran terjadi untuk pertama kalinya. Dalam permulaannya pertempuran ini hanya terjadi secara kecil-kecilan. Seiring berjalannya waktu, pertempuran ini berubah menjadi serangan umum yang memakan banyak korban.
