Tips & Kunci Sukses Implementasi Model Pembelajaran Blended Learning
Salah satu kesalahpahaman umum tentang blended learning adalah hanya mengintegrasikan teknologi ke dalam kurikulum kuliah dengan pendekatan blended learning.
Sebelum menerapkan blended learning atau kuliah online, pimpinan perlu membangun kesepkatan dengan dosen dan staf kampus tentang mengapa model pembelajaran blended learning ini bermanfaat bagi mereka dan mahasiswa mereka. Pihak kampus juga harus megukur infrastruktur atau kondisi lingkungan mereka saat ini, untuk menentukan apakah kampus mereka siap untuk keberhasilan penerapan Blended Leerning.
a. Menentukan Kesepakatan
Alasan kenapa menerapkan blended learning menjadi alasan penting dalam menentukan keberhasilannya, itulah mengapa sangat penting bagi para dosen, pimpinan, dan mahasiswa untuk memahami mengapa blended learning diterapkan. Kesepakatan ini harus dicapai untuk menghindari persepsi lain yang diadopsi tanpa masukan mereka.
Dan yang paling penting, para pendidik yang ditugaskan untuk mengimplementasikan blended learning harus memiliki rasa memiliki dan merasa bahwa blended learning meningkatkan pengajaran mereka, bukan menentangnya.
b. Membangun Infrastruktur
Setelah kesepakan tercapai, langkah selanjutnya adalah menentukan bagaimana blended learning akan dilaksanakan. Ini melibatkan inventarisasi infrastruktur kampus atau lingkungan saat ini untuk menentukan apakah ada dasar untuk keberhasilan blended learning. Pembaruan mungkin perlu dilakukan untuk memastikan penggunaan jaringan nirkabel, perangkat keras, perangkat lunak, dll. yang tepat.
Yang perlu digaris bawahi adalah:
“Banyak perguruan tinggi beranggapan bahwa mengimplementasikan blended learning atau kuliah online itu hanya tinggal investasi di hardware / ruang studio rekaman dll, padahal tidak hanya itu banyak yang harus dilakukan.”
Kunci Sukses Penerapan Sistem Blended Learning
Menurut Jared M. Carmen (Preseident Aglint Learning) menyebutkan lima kunci dalam mengembangkan blended learning. Kelima kunci tersebut adalah:
1. Live Event
Pembelajaran langsung atau tatap muka dalam waktu dan tempat yang sama (classroom) ataupun waktu sama tapi tempat berbeda (seperti virtualclassroom). Bagi beberapa orang tertentu, pola pembelajaran langsung seperti ini masih menjadi pola utama. Namun demikian, pola pembelajaran langsung ini perlu disusun sedemikian rupa agar mencapai tujuan sesuai kebutuhan.
2. Collaboration
Mengkombinasikan kolaborasi, baik kolaborasi pengajar, maupun kolaborasi antar peserta belajar yang kedua-duanya bisa lintas sekolah/kampus. Dengan demikian, perancang blended learning harus meramu bentuk-bentuk kolaborasi, baik kolaborasi antar peserta belajar atau kolaborasi antara peserta belajar dan pengajar melalui tool-tool komunikasi yang memungkinkan seperti chatroom, forum diskusi, email, website/webblog, mobile phone. Tentu saja kolaborasi diarahkan untuk terjadinya konstruksi pengetahuan dan keterampilan melalui proses sosial atau interaksi sosial dengan orang lain, bisa untuk pendalaman materi, problem solving, project-based learning, dll.
4. Assessment
Tentu saja, dalam proses pembelajaran jangan lupakan cara untuk mengukur keberhasilan belajar (teknik assessment). Dalam blended learning, perancang harus mampu meramu kombinasi jenis tes, baik yang bersifat tes maupun non-tes atau tes yang lebih bersifat otentik (authentic assessment/portfolio). Disamping itu, juga perlu mempertimbangkan antara bentuk-bentuk tes online dan tes offline.Sehingga memberikan kemudahan dan fleksibilitas peserta belajar mengikuti atau melakukan tes tersebut.
