Arkeolog Temukan Kota Kuno Berusia 3.400 Tahun
Tim yang berisikan arkeolog asal Jerman dan Iraq menemukan kota kuno berusia 3.400 tahun. Kota itu diduga asal berasal Kekaisaran Mittani yang berlokasi di sekitar Sungai Tigris.
Dalam rilis yg dimuntahkan Universitat Tubingen, kota tua itu ditemukan setelah bagian atas air pada waduk Mosul, Irak turun drastis. Penurunan itu dikarenakan kekeringan ekstrim yg melanda Irak.
Di lokasi, para arkeolog menemukan reruntuhan istana serta bangunan akbar lainnya. Mereka menduga kota itu bernama Zakhiku yg artinya pusat Kekaisaran Mittani (1550-1350 SM).
“Proses penggalian memberikan bahwa situs ini ialah pusat yang penting dari Kekaisaran Mittani, ujar Hasan Qasim asal Kurdistan Archeology Organization.
Proses penemuan kota kuno ini berlangsung lebih kurang Januari-Februari athun baru ini. Para arkeolog segera melakukan penggalian setelah permukaan waduk Mosul turun akibat kekeringan ekstrim.
Proses eksavasinya sendiri hanya berlangsung beberapa hari. Ivana Puljiz yg ikut pada proses itu menilai sejumlah bangunan tinggi yg ditemukan diduga berperan penting bagi Kekaisaran Mittani.
Baca juga : Sheryl Sandberg Umumkan Mundur dari COO Facebook Meta
“Bagian besar dari bangunan itu sangat penting sebab bahan kuliner pada jumlah besar , mampu jadi berasal seluruh wilayah, mungkin disimpan pada sana,” kata Puljiz asal Universitas Freiburg.
Mengutip Phys, para arkeolog terkesan menggunakan kondisi tembok bangunan kota kuno ini yang masih bagus. Padahal, kota ini telah terendam di bawah air selama 40 tahun.
Gempa di 1350 SM jua ikut berperan pada terjaganya kota ini. Pasalnya, bagian bawah bangunan terkubur oleh tembok-tembok yg runtuh.
Temukan Arsip Kuno
Lebih lanjut, para arkeolog juga menemukan 100 papan kuno yang diduga asal dari periode Asiria Tengah. Beberapa papan itu bahkan diduga berisikan huruf-alfabet kuno.
Para arkeolog berharap, inovasi itu menyediakan informasi krusial soal akhir periode Mittani dan awal bangsa Asiria menguasai daerah Irak.
“Merupakan sesuatu yg nyaris ajaib bahwa papan-papan ini tetap terdapat sehabis beberapa dasa warsa di bawah air,” ujar Peter Pfalzner asal University of Tubingen, yg pula terlibat dalam penggalian .
