Keamanan Siber Penting untuk Mendukung Transformasi Digital
Pandemi COVID-19 mendorong banyak perusahaan buat mengadopsi berbagai teknologi, mirip berlomba-lomba untuk bermigrasi ke cloud. namun dalam proses migrasi ke cloud ini, aspek keamanan seringkali kali luput dari taktik transformasi digital, padahal kejahatan siber seperti malware banyak terjadi.
Menggunakan adanya insiden malware yang tiada hentinya, digitalisasi tanpa keamanan bagaikan membangun gedung pencakar langit di atas pasir. mampu hancur hanya pada satu hari, istilah Wilson Xiong, Founder & COO Sangfor Technologies di acara Sangfor Epic-Innovation Summit 2021.
Pernyataan tersebut senada dengan yang dikatakan oleh Guy Rosefelt, Chief Marketing Officer Security Sangfor Technologies. dia mengatakan bahwa pada umumnya, produk keamanan hanya fokus buat melindungi perangkat tertentu serta cenderung tidak terintegrasi menggunakan sistem lainnya.
Misalnya, produk keamanan end-point yang hanya melindungi perangkat end-point saja. Begitu juga dengan produk keamanan yang dikhususkan buat software. Sedangkan buat kebutuhan keamanan dan jaringan sendiri, banyak organisasi serta perusahaan yang memakai lebih asal satu produk vendor.
Berbagai produk sistem keamanan ini seolah tidak berkomunikasi dengan satu sama lain. terdapat celah pada antara produk-produk keamanan ini, sebagai akibatnya memungkinkan malware untuk masuk ke sistem, ungkap Guy.
Berdasarkan Guy, diperlukan saat selama 197 hari oleh perusahaan untuk mendeteksi insiden keamanan (breach) dan 69 hari untuk menanganinya. Bahkan insiden keamanan bisa menghabiskan dana sebanyak $3,68 juta. Hal tadi menyebabkan dibutuhkannya koneksi dan sinergi yg lebih baik antara produk keamanan sebagai akibatnya produk keamanan tadi mampu memperluas lingkup mereka dan menutup celah berasal agresi siber.
Guy pula berkata bahwa integrasi antarproduk keamanan bisa membantu mempertinggi kemampuan pada mendeteksi ancaman siber sampai 90%. Produktivitas pengguna juga berpotensi meningkat sampai 10 kali lipat serta waktu yang diperlukan untuk mendeteksi insiden keamanan bisa dipangkas sampai lebih dari 95%. oleh karena itu, Sangfor Technologies akan menerapkan Cyber Command Integrator 3rd Party Integration Module akan diimplementasikan oleh Sangfor dalam beberapa bulan mendatang.
Teknologi tadi memungkinkan kita buat menghubungkan produk pihak ketiga ke Cyber Command, baik itu firewall, perangkat jaringan, dan lain sebagainya. Jadi, Cyber Command tidak hanya akan mengambil data buat mempertajam breach hunting, tetapi juga mampu membantu perangkat keamanan lainnya menaikkan kemampuan respon terhadap ancaman siber, jelas Guy.
Sangfor sendiri memiliki produk solusi keamanan lainnya, seperti Sangfor Access (SASE) yang memungkinkan cloud wide-area networking yang lebih safety, kemudian Platform-X dan Endpoint Secure (SaaS) buat proteksi dan manajemen end-point berbasis cloud, serta Sangfor HCI serta Sangfor aDesk (MCI).
Di kesempatan yang sama, Sangfor pula meluncurkan segmen bisnis baru, yaitu Managed Cloud Service (MCS), guna membantu perusahaan buat melakukan migrasi ke cloud menjadi langkah transformasi digital secara safety.
Jason Yuan, VP Product & Marketing Sangfor Technologies mengatakan bahwa MCS menggabungkan kelebihan public cloud serta private cloud. Jason pun menambahkan bahwa MCS artinya data center lokal terdistribusi yg memberikan infrastructure-AS-service (IaaS) dan platform-AS-service (PaaS) sebagai akibatnya end-user tidak perlu membangun data center sendiri.
MCS memungkinkan organisasi penekanan ke transformasi digital sekaligus membangun lebih poly nilai bisnis. MCS ini mirip public cloud lokal namun dengan keamanan dan layanan yang lebih baik, tutup Jason.

