EdgeConnex Tingkatkan Pusat Data Hyperscale di Indonesia
Perusahaan penyedia solusi pusat data EdgeConneX mengumumkan pihaknya akan memasuki pasar Indonesia dan memperluas kehadirannya di Asia menggunakan mengakuisisi pusat Data GTN.
EdgeConneX sudah mengakuisisi sebidang tanah yang berbatasan pribadi menggunakan GTN, memungkinkan buat kampus sentra data hyperscale masa depan yang dapat mendukung kapasitas lebih dari 90 MW.
Seiring dengan usaha kami buat terus memperluas platform pusat data Edge dan hyperscale kami secara dunia, kampus pusat data hyperscale yang direncanakan di Jakarta akan memberi kami kemampuan buat memenuhi kebutuhan pelanggan kami akan kapasitas di pasar yang vital serta berkembang pada daerah APAC ini, kata Managing Director (APAC) pada EdgeConneX Kelvin Fong, melalui siaran pers, Kamis.
Berdasarkan perusahaan, akuisisi tadi menandai pasar kesembilan EdgeConneX di Asia yang sudah mulai mapan atau sedang dalam pengembangan karena terus dengan cepat membangun platform sentra datanya di daerah tersebut.
Akuisi sentra data GTN pada Indonesia juga artinya negara ketiga di Asia yang telah dimasuki EdgeConneX menjadi bagian berasal seni manajemen ekspansi globalnya. Sebelumnya, EdgeConneX berencana untuk membentuk platform pusat data pan-India melalui joint venture, AdaniConneX, dan investasi strategis pada Chayora, operator pusat data terkemuka di Cina.
Pendiri Structure Research Philbert Shih memandang bahwa masuknya EdgeConneX ke Indonesia menandakan kehadirannya pada tiga negara terbesar di dunia pada luar Amerika serikat. “Ini adalah pasar dengan keuntungan jangka panjang yang luar biasa,” kata Shih.
Menurutnya, Indonesia memiliki demografi yang kuat, sektor teknologi pada negeri yang berkembang pesat, serta berada di kurva awal adopsi dalam hal layanan infrastruktur yang dialihdayakan mirip komputasi awan (cloud) dan sentra data.
Akuisisi usaha yang beroperasi serta sebidang tanah sangat sesuai dengan apa yang dilakukan EdgeConneX pada fasilitas hyperlocal serta hyperscale, kata Shih. Hal itu, lanjutnya, bisa melayani perusahaan lokal dan penyedia layanan, serta di ketika yg bersamaan memiliki kapasitas serta landasan buat melayani hyperscale cloud.
Indonesia, tidak mirip banyak pasar pada global, merupakan rumah bagi semua hyperscale cloud utama AS serta Cina dan ini akan membentuk volume permintaan yang luar biasa buat pusat data hyperscale, pungkasnya.
Structure Research memprediksi bahwa pasar pusat data akan mencapai hampir 650 juta dolar AS pada tahun 2026, menggunakan hampir dua pertiga di antaranya dari berasal permintaan hyperscaler. Jakarta ialah pasar lain pada kawasan ini yg menyaksikan pertumbuhan pesat yang didorong oleh adopsi komputasi awan.
Melansir asal Antaranews.com, perusahaan menilai bahwa penyediaan infrastruktur digital hyperscale berkualitas tinggi serta andal sangat penting buat mendukung transformasi digital Indonesia dan membantu Indonesia berfungsi menjadi pintu gerbang regional.

