Krisis Iklim Cegah dengan Pola Makan Yang Bijak
Tahukan Anda bahwa perubahan iklim tidak hanya disebabkan oleh polusi yang berasal dari industri dan kendaraan bermotor?. Kegiatan manusia dalam tujuan pemenuhan kebutuhan hidup maupun kesenangan dirinya seringkali membutuhkan energi yang berasal dari alam. Energi tersebut dapat menimbulkan sampah yang biasa disebut dengan emisi, dimana dapat membahayakan lingkungan sekitar manusia bahkan dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Rata-rata produksi emisi global di Indonesia per kapita tahun 2017 sekitar 4,8 ton setara CO2. Produksi emisi tersebut salah satunya dapat disebabkan oleh pola makan terkhusus makanan protein hewani. Hal tersebut hampir 80% dari 51 miliar ton setahun terkait dengan pemenuhan pangan. Membatasi peningkatan konsumsi makan protein hewani seperti daging diduga dapat mengendalikan pemanasan global. Pasalnya produksi daging membutuhkan lahan 20 kali lebih besar dan menghasilkan emisi 20 kali lebih banyak dibandingkan dengan produksi kacang-kacangan, untuk tiap gram protein. Sehingga upaya perubahan pola makan dapat mencapai target perubahan iklim.
Berbagai kerusakan alam yang sudah terjadi di beberapa bagian di bumi memicu terjadinya krisis iklim. Ketika terjadi efek gas rumah kaca yang membuat atmosfer menebal dan membuat udara panas terisolasi di dalam atmosfer memicu pemanasan global atau kenaikan suhu rata-rata bumi yang membuat perubahan pada iklim, hal tersebut berdampak fatal terhadap kehidupan oleh orang-orang di seluruh dunia sehingga disebut krisis iklim. Saat ini ancaman krisis iklim sudah menjadi perhatian berbagai kalangan masyarakat di seluruh dunia. Menurut United States Global Climate Change Programme, perubahan iklim ditandai dengan kerusakan pada pertanian, sumber daya air, kesehatan manusia, vegetasi pada tanah, serta menipisnya lapisan ozon yang disebabkan oleh fenomena cuaca. Untuk dapat didefinisikan sebagai perubahan iklim hal tersebut harus terjadi secara signifikan dalam rentang waktu yang lama seperti satu dekade atau lebih.
Meski terkesan mirip, krisis iklim, perubahan iklim, dan pemanasan global memiliki titik fokus pembahasan yang sedikit berbeda. Pemanasan global merujuk kepada fenomena alam yang membuat suhu bumi naik, sedangkan perubahan iklim merupakan fenomena dan dampak yang terjadi oleh iklim kepada kehidupan di bumi. Dari perubahan iklim tersebut kembali berkembang menjadi permasalahan yang kompleks karena kerusakan iklim yang sangat serius sehingga termanifestasi sebagai krisis iklim, darurat iklim, atau climate emergency.
Beberapa dampak yang diakibatkan oleh krisis iklim antara lain :
- Peningkatan atau Penurunan Curah Hujan
Perubahan iklim menyebabkan presipitasi yang tidak merata sehingga terjadi kenaikan curah hujan di daerah satu dan penurunan curah hujan di daerah lainnya. Hal ini, berdampak pada terjadinya banjir dan kekeringan di sejumlah daerah. - Kenaikan Permukaan Laut
Cairnya gletser dan gunung es di daerah kutub menyebabkan permukaan laut mengalami kenaikan sehingga terjadi banjir di beberapa wilayah pesisir. - Kebakaran Hutan
Perubahan iklim berpengaruh terhadap jumlah oksigen yang ada, tingkat kekeringan bahan bakar permukaan, dan kecepatan penyebaran api sehingga menyebabkan kebakaran hutan. Kebakaran hutan juga dapat menyebabkan kematian hingga kepunahan flora serta fauna. - Mempengaruhi Pertanian dan Ketahanan Pangan
Perubahan iklim berpengaruh terhadap ketahanan pangan karena pergeseran musim akan mempengaruhi pola dan waktu tanam tanaman semusim yang umumnya merupakan tanaman pangan. Dampaknya ialah terjadi kegagalan panen, penurunan produksi dan produktivitas pertanian, kerusakan lahan pertanian, dan peningkatan intensitas Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk memperlambat terjadinya kemungkinan terburuk yang disebabkan krisis iklim pada bumi kita. Cara pertama yang bisa dilakukan adalah membiasakan mengonsumsi lebih banyak sayur-sayuran serta buah-buahan dibandingkan makanan hewani. Hal ini dikarenakan kondisi pada praktik peternakan menghasilkan beban emisi gas rumah kaca antara lain karbon dioksida (CO2), gas metana (CH4), dan nitrogen oksida (N2O) ke atmosfer, baik pada proses fermentasi enteric maupun pengelolaan kotoran ternak. Menurut laporan “Fourth assessment report (AR4)” dalam IPCC (2006) dijelaskan bahwa gas metana memiliki potensi untuk pemanasan global (Global Warming Potential/GWP) sebesar 25 kali emisi gas CO2 ekuivalen. Cara lainnya ialah dengan mengonsumsi bahan makanan nabati dan disarankan mengonsumsi dengan berbagai varian serta menyesuaikan bahan makanan yang sedang musim pada daerah sekitar kita. World Wide Fund for Nature (WWF) mengatakan bahwa dengan memakan makanan yang sedang musim secara tidak langsung juga membantu produsen lokal. Weber dan Matthews (2008) memperkirakan bahwa dengan beralih ke pola makan nabati hanya 1 hari per minggu dari daging merah dan produk susu, sebuah rumah tangga dapat mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) mereka yang setara dengan mengurangi mengemudi sejauh 1160 mil per tahun.
Selain itu pada saat ini sudah banyak dikembangkan banyak macam daging alternatif untuk mengurangi emisi antara lain dengan adanya daging tiruan yang menggunakan bahan-bahan nabati untuk menggantikan daging asli dalam rangka mengurangi emisi akibat pengelolaan hewan ternak, serta adanya produk Cultivated Meat (CM) yang bisa juga disebut daging in-vitro yang dibudidayakan di laboratorium dan daging akan tumbuh langsung dari sel tanpa hewan. Cultivated meat dapat menjadi cara yang efektif untuk mengurangi perubahan iklim serta meningkatkan kesehatan masyarakat dan kesejahteraan hewan, sekaligus menawarkan potensi komersial yang sangat tinggi. Namun, reaksi positif konsumen terhadap cultivated meat dan penerimaannya di pasar tidak dapat diasumsikan.
Solusi selanjutnya menanam sendiri bahan makanan yang akan dikonsumsi, mengapa begitu? Saat menanam tanaman pada lahan sendiri dan dikelola sendiri akan memperkecil jejak karbon yang akan muncul akibat transportasi seperti dari produsen ke konsumen. Selanjutnya cara lain seperti mengurangi limbah makanan juga perlu dilakukan karena telah menunjukkan bahwa limbah makanan berkontribusi terhadap percepatan kerusakan lingkungan. Pertama dampak yang relatif kecil dari dekomposisi makanan yang terbuang setelah dibuang ke tempat pembuangan sampah, dan potensi dampak yang jauh lebih signifikan dari emisi yang terkait dengan produksinya, pemrosesan, transportasi, dan ritel. Kedua, limbah makanan dapat seiring waktu menumpuk sehingga mengurangi ketersediaan lahan dan menghilangkan fungsi lahan hijau yang seharusnya bisa ditanam untuk keperluan pangan maupun lingkungan. Secara garis besar kita sebagai masyarakat yang bertanggung jawab seharusnya bisa berpikir dari sisi lain serta visioner terhadap dampak dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Mulai detik ini mari membiasakan diri dengan membeli atau mengambil makanan secukupnya saja dan mengupayakan agar tidak menyia-nyiakan makanan. Pada akhirnya terdapat banyak jalan dalam mencegah krisis iklim yang akan terjadi di kemudian hari, namun semuanya akan kembali ke pribadi masing-masing dan kesadaran diri untuk melakukan hal tersebut demi melindungi bumi untuk anak cucu kita di kemudian hari.
Baca Juga :
