Brain Fog, Efek Jangka Panjang Pasca Sembuh dari Covid-19 yang Harus Diwaspadai
Covid-19 perlu disikapi dengan serius. Disiplin menjalankan protokol kesehatan nggak boleh kendor sekalipun sudah divaksin. Dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan Covid-19 bukan saja saat terinfeksi. Pasca sembuh dari Covid-19, penyintas diketahui dapat mengalami long covid, atau kondisi kesehatan yang tidak normal.
Salah satu fenomena long covid adalah brain fog, yaitu gangguan kognitif pada otak. Lebih lanjut mengenai brain fog, berikut penjelasannya dirangkum dari gelaran webinar “Waspada Brain Fog Sebagai Efek Jangka Panjang Pasca Covid-19” dari Kalbe, Rabu (18/8) lalu.
Brain fog adalah gejala terkait fungsi otak pada kemampuan konsentrasi, memori, dan komunikasi
Dokter Spesialis Saraf RS Atmajaya, Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S mengatakan nggak semua penyintas Covid-19 mengalami bebas gejala pasca sembuh. Banyak di antara mereka yang melapor mengalami kelelahan dan pusing berkelanjutan. Hal tersebut, kata dr. Yuda, memiliki dampak klinis jangka panjang dalam penurunan fungsi kognitif atau brain fog.
“Banyak di antara mereka (penyintas Covid-19) yang dilaporkan mengalami rasa lelah dan pusing berkelanjutan. Penurunan fungsi kognitif menjadi dampak klinis jangka panjangnya, yang dikenal dengan istilah brain fog yaitu gejala terkait fungsi otak pada kemampuan konsentrasi, memori, dan komunikasi,” ujar dr. Yuda.
Secara sederhana, brain fog adalah kondisi saat seseorang mengalami penurunan fungsi kognitif, seperti sulit konsentrasi, sering lupa, hingga sulit mengambil keputusan. Adapun penyebabnya bisa lebih dari satu faktor, mulai dari risiko penyakit bawaan, infeksi Covid-19, hingga delirium saat perawatan di rumah sakit.
Seperti diketahui, pusat memori manusia berada pada otak, tepatnya pada hippocampus yang telah terbukti sangat rentan terhadap inflamasi atau peradangan. Sementara virus Corona, diketahui dapat secara langsung menginfeksi ke otak pasien Covid-19. Hal ini lah yang kata dr. Yuda dapat memicu efek klinis jangka panjang seperti mudah lupa dan sulit konsentrasi pada penyintas.
Sementara dr. Yuda dalam keterangannya di laman Tirto.id mengatakan nggak ada evidence-based medicine yang paling ampuh untuk mengatasi gangguan kognitif. Namun, mengonsumsi Citicoline bisa jadi potencial treatment. Dalam hal ini Nandhita pun mengatakan suplemen kesehatan Citicoline dari Kalbe dapat digunakan untuk mencegah sekaligus mengatasi gejala brain fog.
Baca juga :
- Pemerintah Optimalkan Akses Internet untuk Kebutuhan yang Tinggi Semasa Pandemi
“Suplemen kesehatan Citicoline (Brainact Odis®) (dapat) berfungsi membantu terapi Brain Fog dengan efek samping aman, rasa segar, dan benefitnya cepat larut dalam mulut tanpa perlu dibantu air minum,” kata Nandhita.
Selain dengan konsumsi Citicoline, dr. Yuda juga menekankan pentingnya mengombinasikan olahraga fisik, stimulasi mental, dan aktivitas sosial untuk menjaga kesehatan fungsi otak dan mencegah gangguan kognitif. Hal-hal tersebut juga perlu dibarengi dengan taat menjaga protokol kesehatan dan melakukan vaksinasi jika telah memungkinkan.
Previous post
Pemerintah Optimalkan Akses Internet untuk Kebutuhan yang Tinggi Semasa Pandemi
You may also like
Pernahkah Anda mengatakan “iya” padahal sebenarnya ingin menolak? Mungkin Anda pernah menerima pekerjaan tambahan saat sudah kelelahan, membantu orang lain meskipun sedang sibuk, atau menyetujui sesuatu hanya karena merasa tidak enak untuk menolak. Jika iya, Anda tidak sendirian. Banyak orang …
Pernahkah Anda membuka media sosial atau portal berita hanya untuk beberapa menit, tetapi tanpa sadar berakhir scrolling selama berjam-jam? Awalnya mungkin hanya ingin melihat update terbaru. Namun satu informasi membawa ke informasi lain, lalu terus berlanjut tanpa henti. Jika kebiasaan …
Dalam kehidupan yang serba cepat, banyak orang terbiasa mengabaikan kondisi mentalnya sendiri. Saat merasa lelah, stres, atau tertekan, respons yang sering muncul adalah: “Nanti juga membaik sendiri.” Memang, ada kalanya kita hanya membutuhkan waktu untuk beristirahat. Namun ada juga kondisi ketika …
